Friday, May 23, 2014

Jalan..


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين
والصلاة والسلام على أشرف المرسلين
وعلى آله وصحبه أجمعين


Rasulullah SAW juga pernah bersabda.

Daripada Abu Hurairah r.a., Nabi SAW bersabda :
“Jalan ke syurga dibentangi dengan perkara yang tidak disukai
manakala jalan ke neraka dibentangi dengan syahwat.”
[ HR. Bukhari dan Muslim ]


Jalan..
Jauh dikau di hadapan,
Dihiasi simpang siur persinggahan,
Buat jiwa yang letih dengan kehidupan..
Di kiri dan kananmu rendangnya teduhan,
Buat pelindung terik mentari dan panas hujan..
Mentari itu panasnya bukan untuk membakar,
Hujan itu, kilatnya bukan untuk menyambar,
Ia hiasan jalan, ia teman perjalanan..
Ada yang berlari, ada yang berhenti,
Ada jiwa yang hilang arah,
ada jiwa yang berpatah arah..


Apa pun jua jiwa,
Perjalanan harus diteruskan..
Yang menanti dihadapan,
Meski tak terlihat, namun dapat kau imani,
Meski tak terdengar, namun dapat kau cari,
Jiwa yang menjumpainya, adalah jiwa yang mengenalinya,
Jiwa yang alpa, takkan ketemu walau disuluh gelita,
walau dipancar cahaya


Apa bekalmu dalam perjalanan ini, menentukan nasibmu di destinasi nanti.
Andai kau curi hiasan jalan untuk dibawa,
bekalan itu akan memberatkan langkahmu
Andai kau sendiri yang menghiasi jalanmu,
Pintu-NYA terbuka, menanti kepulanganmu..


(Alfaqeerah Ila Rabbi)


Wallahu a'lam


Friday, May 16, 2014

Pembimbing dan Guru..


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين
والصلاة والسلام على أشرف المرسلين
وعلى آله وصحبه أجمعين


Keadaan yang terbaik adalah seperti perkataan:
"Barang siapa yang mengetahui, mengamalkan, dan mengajarkan sesuatu,
itulah orang yang namanya diserukan di kerajaan langit."

Dia tidak boleh seperti jarum yang memberi pakaian kepada orang yang lain,
sedang dia sendiri telanjang. Dia juga tidak boleh seperti sumbu lampu
yang menerangi sesuatu selainnya, sedang dia sendiri terbakar, sebagaimana
pepatah, "Kamu telah seperti sumbu lampu yang menerangi manusia, sedang
dia sendiri terbakar."

Barangsiapa yang menyandang gelar sebagai guru, dia telah menyandang sesuatu yang agung.
Karena itu, hendaklah dia menjaga etika dan tugas dia seperti berikut:

1. Menyayangi murid dan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Hal ini
berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w.

إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ كََالْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

"Aku bagi kalian adalah ibarat ayah bagi anaknya." (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Bahkan, sang guru sebagai ayah yang sebenarnya. Ayah adalah penyebab kehidupan fana,
sementara Guru adalah penyebab kehidupan yang kekal. Karena itu, hak guru diutamakan
atas hak kedua orang tua.

Apabila seorang guru mengajar muridnya dengan tujuan untuk mendapat dunia, ia merupakan
kehancuran dan penghancuran. Apabila seorang guru mengajar muridnya demi mendapat ridha
Allah, hendaklah murid-muridnya mencintai


2. Mengikuti jejak Rasulullah s.a.w. Seorang guru tidak diperbolehkan untuk meminta
upah atas ilmu yang diajarkannya. Allah SWT berfirman,

"...Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu." (QS al-Insan 76:9)


3. Tidak menahan sedikit pun dari nasihat, seperti melarang murid untuk memasuki suatu
tingkatan sebelum waktunya dan menyelami ilmu yang tersembunyi (al-khafi) sebelum
menguasai hukum-hukum yang terang (al-jali).


4. Menasihati para murid dan melarang mereka agar tidak memiliki akhlak yang tercela,
iaitu melalui sindiran tanpa menjatuhkan harga diri mereka. Guru harus terlebih dahulu
beristiqamah. Setelah itu, dia meminta murid untuk beristiqamah. Apabila hal itu tidak
dilakukan, nasihat tidak akan bermanfaat. Meneladani perbuatan lebih kuat daripada
menaati perkatan.


Wallahu a'lam

Rujukan: Kitab Ihya Ulumiddin Karya Iman Al-Ghazali.


SELAMAT HARI GURU KEPADA SEMUA WARGA PENDIDIK


Friday, May 09, 2014

Takut dan khuatir..


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين
والصلاة والسلام على أشرف المرسلين
وعلى آله وصحبه أجمعين


Sebahagian ulama ahli hikmah mengatakan:

a. Barangsiapa tidak takut kepada Allah, tentu tidak akan selamat dari kesalahan bicara.

b. Barangsiapa tidak takut kehadirannya di hadapan Allah maka dia tidak akan selamat
hatinya dari sesuatu yang diharamkan dan yang syubhat.

c. Barangsiapa tidak memutuskan diri dari harapan terhadap orang lain,
tentu dia tidak akan selamat dari sifat tamak atau rakus.

d. Barangsiapa yang tidak memelihara amalnya, maka dia tidak akan selamat dari riya'.

e. Barangsiapa tidak memandang cukup kepada Allah sebagai pemelihara hatinya tentu
dia tidak akan selamat dari perbuatan iri.

f. Dan barangsiapa tidak memperhatikan orang yang lebih utama ilmu dan amalnya dari dia,
maka dia tidak akan selamat dari sifat ujub.


Haram terbahagi kepada dua:

1. Haram karena zatnya, seperti bangkai.
2. Haram karena hukumnya, seperti telur hasil curian.


Syubhat terbahagi kepada tiga:

1. Syubhat yang mencapai derajat haram, iaitu sesuatu yang diragukan antara haram dan
halal tapi hati lebih cenderung kepada keharamannya.

2. Syubhat yang derajat halal dan haramnya seimbang. Hal seperti ini bila ditinggalkan termasuk wara'.

3. Syubhat yang diragukan keharamannya. Sebaiknya hal ini ditinggalkan.

Dalam hal ini Nabi s.a.w. bersabda: "Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu,
kerjakanlah apa yang tidak meragukanmu, karena kebenaran itu mengandung ketenangan
sedangkan bohong itu mengandung keraguan."

Wallahu a'lam

Rujukan : Kitab Terjemah Nashahul Ibad karangan Ibnu Hajar Asqalani