
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين
والصلاة والسلام على أشرف المرسلين
وعلى آله وصحبه أجمعين
"Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat (kuasa) untuk memuaskan marahnya itu, tetapi tidak dipuaskan
bahkan tetap ditahan/disabarkan, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian
makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya." (Riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Tingkat keteguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup memang berbeza-beza. Ada yang mampu menghadapi
persoalan yang sedemikian sulit dengan perasaan tenang. Namun, ada pula orang yang menghadapi persoalan kecil
saja ditanggapinya dengan begitu berat. Semuanya bergantung pada kekuatan ma'nawiyah (keimananan) seseorang.
Pada dasarnya, tabiat manusia yang beragam: keras dan tenang, cepat dan lambat, bersih dan kotor,
berhubungan erat dengan keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang
memiliki keteguhan iman akan menyelurusi lorong-lorong hati orang lain dengan respon pemaaf,
tenang dan lapang dada.
Adakalanya, kita boleh merasa begitu marah dengan seseorang yang menghina diri kita. Kemarahan kita
begitu memuncak seolah jiwa kita terlempar dari kesedaran. Kita begitu merasa tidak mampu menerima
penghinaan itu. Kecuali, dengan marah atau bahkan dengan cara menumpahkan darah. Na'udzubillah .
Menurut riwayat, ada seorang Badwi datang menghadap Nabi s.a.w. Dengan maksud ingin meminta sesuatu
pada beliau. Beliau memberinya, lalu bersabda, "Aku berbuat baik padamu."Orang Badwi itu berkata,
"Pemberianmu tidak bagus." Para sahabat merasa tersinggung, lalu dingerumuninya dengan kemarahan.
Namun, Nabi memberi isyarat agar mereka bersabar.
Kemudian, Nabi s.a.w pulang ke rumah. Nabi kembali dengan membawa Barang tambahan untuk diberikan
ke Badwi. Nabi bersabda pada orang Badwi itu, "Aku berbuat baik padamu?" Badwi itu berkata,
"Ya, semoga Allah membalas kebaikan Tuan, keluarga dan kerabat."
Keesokan harinya, Rasulullah s.a.w bersabda kepada para sahabat, "Nah, kalau pada waktu Badwi itu
berkata yang sekasar engkau dengar, kemudian engkau tidak bersabar lalu membunuhnya. Maka, ia pasti
masuk neraka. Namun, kerana saya binanya dengan baik, maka ia selamat." Beberapa hari setelah itu,
si Badwi mahu diperintah untuk melaksanakan tugas penting yang berat sekalipun. Dia juga turut dalam
medan jihad dan melaksanakan tugasnya dengan taat dan redha.
Rasulullah s.a.w memberikan contoh kepada kita tentang berlapang dada. Ia tidak panik menghadapi
kekasaran seorang Badwi yang memang demikianlah sifatnya. Kalau pun saat itu, dilakukan hukuman
terhadap si Badwi, tentu hal itu bukan kezaliman. Namun, Rasulullah s.a.w tidak berbuat demikian.
Beliau tetap sabar menghadapinya dan memberikan sikap yang ramah dan lemah lembut. Pada saat itulah,
beliau s.a.w ingin menunjukkan pada kita bahawa kesabaran dan lapang dada lebih tinggi nilainya
daripada harta benda apa pun. Harta, saat itu, ibarat sampah yang bertumpuk yang dipakai untuk
suguhan unta yang ngamuk. Tentu saja, unta yang telah mendapatkan keperluannya akan dengan mudah
dapat dijinakkan dan boleh digunakan untuk menempuh perjalanan jauh.
Wallahu a'lam, moga ada manfaatnya buat kita semua..