Friday, February 25, 2011

Hakikat teman sejati


بسم الله الرحمن الرحيم


"Tidak ada sahabat sejati yang ikhlas dalam persahabatan kecuali sahabat yang mahu menemani kamu walaupun ia tahu akan aib/kecacatanmu dan mengampuni kamu atas dasar persahabatan yang mana ia tiada lain adalah Allah Subhanahu wa ta'ala. Sebaik-baiknya orang yang kamu temani adalah orang yang meminta bersahabat denganmu bukan kerana sesuatu darimu yang bermanfaat kepadanya".

Al-Iman Ibnu 'Athaillah Rahimahullah berkata : Sebaik-baiknya sahabat yang kamu gauli adalah orang yang meminta kamu untuk bersahabat denganmu untuk kemanfaatan dirimu sendiri bukan kerana kemanfaatan baginya. Dan semua manusia tidak ada yang mahu bersahabat denganmu dengan tanpa ingin mendapatkan kemanfaatan darimu. Hanya Allah~lah yang meminta kamu dan melindungimu supaya kamu bahagia kerana dekat kepada~Nya dan bisa kembali dengan agungnya nikmat serta kebaikan yang diberikan kepada kamu.

Kebanyakkan insan di dunia yang fana ini, mereka saling berkomunikasi dan berhubung atas hajat individual, dengan makna yang satu memerlukan yang lain, mereka berhubung dengan akrab, rasa senang dan saling memuji agar keperluan masing-masing terpenuhi, dan apabila salah satu dari mereka menemukan 'aib/cacat dari lainnya, maka bisa jadi persahabatan berbalik arah menjadi permusuhan. Inilah kenyataan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat dan memang sudah menjadi fitrah yang dititahkan bagi setiap insan. Hubungan antara sesama insan didasarkan atas pemenuhan hajat masing-masing.

Hajat itu sendiri ada yang berupa kebendaan (Maddiyah) atau (spiritual) Maknawiyah. Kalau pun ada orang yang mahu bersahabat dengan yang lainnya dengan tanpa menginginkan faedah atau hajat madiyah atau maknawiyah yang kembali kepadanya dan terus bersahabat walaupun ada kecacatan pada temannya maka ketahuilah bahawa itu hanyalah hayalan semata bukan yang sebenarnya. Tidak ada yang bersahabat denganmu dengan tanpa meminta kemanfaaatan darimu kepadanya, ia selalu memberikan kemanfaatan kepadamu, melindungimu dan menasihati terus walaupun kamu berlumuran dengan aib kecuali hanya satu saja iaitu Allah Subhanahu wa ta'ala.

Persahabatanmu dengan~Nya tidaklah memerlukan lebih dari dua hal, iaitu :
(1) Ma'rifat (kamu mengenal~Nya)
(2) Jadikanlah Ia sahabat dengan memperbanyak zikir kepada~Nya.

Dengan ini persahabatamu akan selalu memberi kemanfaatan bagi dirimu sendiri. Kemudian mengenali persahabatan dua insan yang kerana Allah (redha~Nya) tidak bertemu atau berpisah kecuali kerana~Nya merupakan cabang atau buah daripada pertalian hubungan persahabatan yang sempurna dengan Allah.

[Imam Ibnu Athaillah Askandary]


Friday, February 18, 2011

Tanda-tanda cinta kepada Allah


بسم الله الرحمن الرحيم

Banyak orang mengaku mencintai Allah, tetapi mereka harus mempertanyakan kembali, semurni apakah kecintaan mereka itu? Kecintaannya harus diuji, di antaranya dengan tidak membenci kematian, kerana seorang "teman" tidak akan takut bertemu "teman"nya. Nabi s.a.w. bersabda, "Siapa yang ingin melihat Allah, Allah pun ingin melihatnya." Memang benar, seorang pencinta Allah yang ikhlas mungkin saja takut akan kematian sebelum tuntas mempersiapkan dirinya untuk kehidupan akhirat. Namun, jika ia benar-benar ikhlas, pasti ia akan bersemangat mempersiapkan diri. Jadi, salah satu tanda bahawa seseorang mencintai Allah adalah tidak takut mati.

Tanda berikutnya adalah kesediaan seseorang untuk mengorbankan segala hasrat dan kehendaknya demi mencapai kehendak Allah. Ia harus mengikuti dan melaksanakan segala sesuatu yang dapat mendekatkannya pada Allah seraya menjauhkan diri dari segala yang menjauhkannya dari Allah.

Kendati demikian, orang yang pernah melakukan dosa tidak lantas divonis tidak mencintai Allah sama sekali. Keberdosaannya itu semata-mata membuktikan bahawa ia tidak mencintai~Nya sepenuh hati. Wali Fudhail berkata kepada seseorang, "Jika ada yang bertanya kepadamu, cintakah engkau kepada Allah, diamlah; kerana jika kau jawab, 'Aku tidak mencintai-Nya,' kau telah kafir; dan jika kau jawab, 'Ya, aku mencintai~Nya,' bererti kau dusta kerana banyak perbuatanmu yang bertentangan dengan pengakuanmu."

Tanda yang ketiga adalah fikiran yang selalu hidup dan segar berkat zikir kepada Allah. Setiap saat, ingatan kepada~Nya tak pernah lepas dari fikirannya. Seorang pencinta pasti akan terus mengingati kekasihnya. Dan jika cintanya itu sempurna, tentu ia tidak akan pernah melupakan~Nya. Meski demikian, mungkin saja cinta kepada Allah tidak menempati tempat utama di hati seseorang, namun kecintaan akan cinta kepada Allah menguasai hatinya. Kedua hal itu, cinta kepada Allah dan kecintaan akan cinta kepada~Nya, sungguh berbeda.

Tanda cinta kepada Allah yang keempat adalah mencintai Al-Quran, firman Allah, dan mencintai Muhammad Nabiyullah. Lalu, jika cintanya benar-benar kuat, ia akan mencintai semua manusia, kerana mereka semua adalah hamba Allah. Bahkan, cintanya akan meliputi seluruh makhluk, kerana orang yang mencintai seseorang akan mencintai karya-karya cipta dan hasil tangannya.

Tanda yang kelima adalah adanya hasrat yang kuat untuk beruzlah demi tujuan ibadah. Seorang yang mencintai Allah senantiasa mendambakan datangnya malam agar bisa berhubungan dengan Temannya tanpa halangan. Jika ia lebih menyukai bercakap-cakap di siang hari dan tidur di malam hari daripada melakukan uzlah seperti itu, bererti cintanya tidak sempurna. Allah berkata kepada Daud a.s., "Jangan terlalu dekat dengan manusia, kerana ada dua jenis manusia yang jauh dari kehadiran~Ku, iaitu orang yang bernafsu mencari imbalan namun semangatnya kendur setelah mendapatkannya, dan orang yang lebih menyukai fikiran-fikirannya sendiri dari mengingat~Ku. Tanda-tanda keengganan~ku adalah Aku membiarkannya sendirian."

Sebenarnya, jika cinta kepada Allah benar-benar menguasai hati manusia, kecintaan kepada segala sesuatu yang lain (selain Allah) akan sirna. Dikisahkan bahawa seorang Bani Israil biasa solat di malam hari. Tetapi ketika melihat seekor burung yang selalu bernyanyi dengan merdu di atas sebatang pohon, ia mulai solat di bawah pohon itu agar dapat menikmati nyanyian burung itu. Allah memerintahkan Daud a.s. untuk mengunjunginya dan berkata kepadanya, "Engkau telah mencampurkan kecintaan kepada seekor burung yang merdu dengan kecintaan kepada~Ku sehingga tingkatanmu di antara para wali melorot jatuh." Di lain pihak, ada orang yang sangat mencintai Allah hingga ketika sedang beribadah kepada~Nya dan rumahnya terbakar habis, ia tidak menyedarinya sama sekali.

Tanda yang keenam adalah perasaan riang dan mudah untuk beribadah. Seorang wali berkata, "Selama tiga puluh tahun pertama aku menjalankan ibadah malamku dengan susah payah, tetapi tiga puluh tahun kemudian bahkan aku sangat menyukainya." Jika kecintaan kepada Allah sudah sempurna, tak ada kebahagiaan yang bisa menandingi kebahagiaan beribadah kepada~Nya.

Tanda ketujuh adalah mencintai orang yang menaati~Nya dan membenci orang yang kafir dan orang yang tidak taat, sebagaimana dikatakan Al-quran: "Mereka bersikap keras kepada orang kafir dan saling mengasihi di antara sesamanya." Nabi saw. pernah bertanya kepada Allah, "Ya Allah, siapakah pencinta-pencinta~Mu?" Dia menjawab, "Orang yang berpegang erat kepada~Ku layaknya seorang anak yang kepada ibunya; yang berlindung dalam mengingat~Ku sebagaimana seekor burung mencari perlindungan di sarangnya; dan orang yang murka melihat perbuatan dosa, layaknya seekor singa ketika marah; ia tidak takut kepada apa pun."

Wallahua'lam...



Sumber : Imam al-Ghazali
Bahagia Sentiasa : Kimia Ruhani Untuk Kebahagiaan Abadi [PT Serambi]
diterjemahkan dari The Alchemy of Happiness [J. Murray, London],
dengan merujuk edisi bahasa Arab, Kimiyyah al-Sa'adah [Dar al-Fikr].

Friday, February 11, 2011

Kekasih kita Muhammad s.a.w.


بسم الله الرحمن الرحيم
اَللَّهُّمَ صَلِّي عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلّمِ

Terbitlah purnama kepada kita
Dengan terbitnya tenggelam seluruh bulan lainnya
Rupawan seindah wajahmu tak pernah kami menyaksikannya
Wajah ceria penuh sukacita

Engkau mentari, engkaulah purnama
Engkau cahaya di atas segala cahaya
Engkau pembangkit semangat dan daya
Engkau lentera hati kita

Wahai kekasihku wahai Muhammad junjunganku
Wahai bintang dari Timur dan Barat
Wahai engkau sang pendukung wahai yang terpuji
Wahai imam dua kiblat

Siapa yang sempat melihat wajahmu betapa untungnya
Wahai engkau yang berbudi mulia pada orangtua
Mata airmu yang sejuk dan suci
adalah tempatku mereguk minum di hari kebangkitan nanti

Kami tak pernah melihat unta-unta
dari mana pun asalnya berjalan gembira
kecuali saat mereka menujumu semata
Awan-awan melindungimu
Dan tuan rumah mulia melimpahkan segala
Hadiah kehormatan bagimu saja

Pepohonan mendatangimu menitikkan airmata
merundukkan diri antara dua tanganmu
Dan kijang-kijang yang melesat itu wahai kekasihku
Mereka pun datang untuk perlindunganmu

Bila semua kafilah telah siap sedia
saat keberangkatan telah diumumkan bagi semua
‘Kudekati mereka dengan basah airmata
sembari berkata, “Tunggu sejenak, wahai tuan,
dan kirimkan untukku beberapa surat ini saja..”
Wahai rasa rindu yang tak tertanggungkan

Di tengah tujuan nampak rumah-rumah hunian
Waktunya malam hari dan saat awal subuh sekali
Di puncak gembira semua makhluk di alam raya ini
Untukmu wahai pemuda berdahi rupawan berseri
Cinta mereka bagimu sungguh tak ada yang memadai
Penuh tunggu penuh rindu
dalam kehadiran aura jiwamu
Umat manusia yang ada di mana-mana laksana terpana

Engkaulah penutup seluruh nabi
Dan pada Dia Tuhanmu bersyukur engkau tiada henti
Hamba-hambamu ini wahai Tuhan amat mengharapkan
seluruh rahmatmu berlimpah baginya tanpa henti

Fikiran kami tentang dirimu junjunganku Muhammad
senantiasa luhur dan suci
Wahai pembawa berita gembira wahai pemberi peringatan
bagi umat manusia
Bantu aku ya Allah dan lindungi aku
Wahai yang mampu melindungi seksa api neraka
Wahai yang mampu menolong dan tempat kami berlindung
di saat-saat malapetaka harus ditanggung

Sukacitalah sang hamba yang telah merasakan erti
bahagianya merdeka
dari segala pedih dan cemas atasmu Muhammad kekasih hati
yang cahayanya begitu terang layaknya purnama
bagimu seluruh kebaikan sempurna

Dibanding dirimu tak ada lagi yang lebih suci
Wahai datuk baginda Husain
Bagimu seluruh rahmat Allah semata
terus menerus melimpah sepanjang masa

Wahai engkau yang darjatnya tinggi diangkat
Maafkan segala dosa yang kami buat
dan maafkan segala kesalahan kami
Engkau Pemurah, Pemaaf bagi segala salah
dan segala laku tercela

Engkau yang memaafkan semua dosa
Engkau yang meluruskan jalan kami yang menyimpang
yang mengetahui semua rahsia
Bahkan yang paling dalam dari semua rahsia
Engkau yang menjawab semua doaku

Tuhanku, kasihi semua hambamu ini
melalui jalan kebajikan dan kebaikan
Semoga rahmatMu tercurah bagi Ahmad
rahmat melebihi seluruh baris
yang pernah ditulis

Aku berdoa bagi Muhammad yang selalu dalam bimbingan~Nya
Pemilik wajah cahaya wajah yang berkilau laksana sang surya
Malam hari kelahirannya bagi Islam adalah saat sukacita
saat semua berbangga

Hari itu anak perempuan Wahab
Memperoleh berkah kebesaran tak wanita lain pun
pernah mendapatkan
Dia pun mendatangi kaumnya lebih anggun
bahkan dari Maryam wanita yang perawan selamanya

Masa kelahirannya adalah masa kederhakaan pada puncaknya
dan kelahirannya adalah puncak bencana bagi para penderhaka

Namun dalam suasana kebahagiaan penuh sukacita
Yang berjalan tanpa henti-hentinya
Khabar baik itu datang juga
Telah lahir seorang Muhammad
Peribadi yang selalu berada dalam bimbingan~Nya
dan masa bahagia
Serta yang di atasnya semua bahagia
datanglah pada akhirnya.


Petikan bait-bait syair buku Maulud Barzanji,
Sayyid Ja'far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji