الحمد لله رب العالمين
والصلاة والسلام على أشرف المرسلين
وعلى آله وصحبه أجمعين
Keadaan yang terbaik adalah seperti perkataan:
"Barang siapa yang mengetahui, mengamalkan, dan mengajarkan sesuatu,
itulah orang yang namanya diserukan di kerajaan langit."
Dia tidak boleh seperti jarum yang memberi pakaian kepada orang yang lain,
sedang dia sendiri telanjang. Dia juga tidak boleh seperti sumbu lampu
yang menerangi sesuatu selainnya, sedang dia sendiri terbakar, sebagaimana
pepatah, "Kamu telah seperti sumbu lampu yang menerangi manusia, sedang
dia sendiri terbakar."
Barangsiapa yang menyandang gelar sebagai guru, dia telah menyandang sesuatu yang agung.
Karena itu, hendaklah dia menjaga etika dan tugas dia seperti berikut:
1. Menyayangi murid dan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Hal ini
berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w.
إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ كََالْوَالِدِ لِوَلَدِهِ
"Aku bagi kalian adalah ibarat ayah bagi anaknya." (HR Abu Dawud dan Ahmad)
Bahkan, sang guru sebagai ayah yang sebenarnya. Ayah adalah penyebab kehidupan fana,
sementara Guru adalah penyebab kehidupan yang kekal. Karena itu, hak guru diutamakan
atas hak kedua orang tua.
Apabila seorang guru mengajar muridnya dengan tujuan untuk mendapat dunia, ia merupakan
kehancuran dan penghancuran. Apabila seorang guru mengajar muridnya demi mendapat ridha
Allah, hendaklah murid-muridnya mencintai
2. Mengikuti jejak Rasulullah s.a.w. Seorang guru tidak diperbolehkan untuk meminta
upah atas ilmu yang diajarkannya. Allah SWT berfirman,
"...Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu." (QS al-Insan 76:9)
3. Tidak menahan sedikit pun dari nasihat, seperti melarang murid untuk memasuki suatu
tingkatan sebelum waktunya dan menyelami ilmu yang tersembunyi (al-khafi) sebelum
menguasai hukum-hukum yang terang (al-jali).
4. Menasihati para murid dan melarang mereka agar tidak memiliki akhlak yang tercela,
iaitu melalui sindiran tanpa menjatuhkan harga diri mereka. Guru harus terlebih dahulu
beristiqamah. Setelah itu, dia meminta murid untuk beristiqamah. Apabila hal itu tidak
dilakukan, nasihat tidak akan bermanfaat. Meneladani perbuatan lebih kuat daripada
menaati perkatan.
Wallahu a'lam
Rujukan: Kitab Ihya Ulumiddin Karya Iman Al-Ghazali.
SELAMAT HARI GURU KEPADA SEMUA WARGA PENDIDIK
"Barang siapa yang mengetahui, mengamalkan, dan mengajarkan sesuatu,
itulah orang yang namanya diserukan di kerajaan langit."
Dia tidak boleh seperti jarum yang memberi pakaian kepada orang yang lain,
sedang dia sendiri telanjang. Dia juga tidak boleh seperti sumbu lampu
yang menerangi sesuatu selainnya, sedang dia sendiri terbakar, sebagaimana
pepatah, "Kamu telah seperti sumbu lampu yang menerangi manusia, sedang
dia sendiri terbakar."
Barangsiapa yang menyandang gelar sebagai guru, dia telah menyandang sesuatu yang agung.
Karena itu, hendaklah dia menjaga etika dan tugas dia seperti berikut:
1. Menyayangi murid dan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Hal ini
berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w.
إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ كََالْوَالِدِ لِوَلَدِهِ
"Aku bagi kalian adalah ibarat ayah bagi anaknya." (HR Abu Dawud dan Ahmad)
Bahkan, sang guru sebagai ayah yang sebenarnya. Ayah adalah penyebab kehidupan fana,
sementara Guru adalah penyebab kehidupan yang kekal. Karena itu, hak guru diutamakan
atas hak kedua orang tua.
Apabila seorang guru mengajar muridnya dengan tujuan untuk mendapat dunia, ia merupakan
kehancuran dan penghancuran. Apabila seorang guru mengajar muridnya demi mendapat ridha
Allah, hendaklah murid-muridnya mencintai
2. Mengikuti jejak Rasulullah s.a.w. Seorang guru tidak diperbolehkan untuk meminta
upah atas ilmu yang diajarkannya. Allah SWT berfirman,
"...Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu." (QS al-Insan 76:9)
3. Tidak menahan sedikit pun dari nasihat, seperti melarang murid untuk memasuki suatu
tingkatan sebelum waktunya dan menyelami ilmu yang tersembunyi (al-khafi) sebelum
menguasai hukum-hukum yang terang (al-jali).
4. Menasihati para murid dan melarang mereka agar tidak memiliki akhlak yang tercela,
iaitu melalui sindiran tanpa menjatuhkan harga diri mereka. Guru harus terlebih dahulu
beristiqamah. Setelah itu, dia meminta murid untuk beristiqamah. Apabila hal itu tidak
dilakukan, nasihat tidak akan bermanfaat. Meneladani perbuatan lebih kuat daripada
menaati perkatan.
Wallahu a'lam
Rujukan: Kitab Ihya Ulumiddin Karya Iman Al-Ghazali.
SELAMAT HARI GURU KEPADA SEMUA WARGA PENDIDIK


